28 Juli, 2008

Inilah hidup

Kuncup-kuncup daun rambutan di depan jendela bergoyang-goyang tertiup angin, gerimis belum betul-betul pergi hingga menyisahkan dingin. Hufs. Tak akan aku menyesali hidup dengan cara seperti ini. Pastinya kata-kata itu untuk menghibur diri yang gundah gulana. Tidak mungkin aku semakin menghancurkan hidup hanya karena semua kebangganku sudah berterbangan, dan pastinya ini bukan salah siapapun. Masih banyak jalan menuju masa depan yang lebih cerah, ketimbang aku semakin patah semangat. Aku memandangi sebuah buku motivasi diri yang sudah kusam, dari tadi malam tak jua bisa kubaca dengan usai. Beberapa hari ini aku hanya didepan televisi, duduk di dekat jendela memandangi pohon-pohon atau tidur-tiduran di atas kasurku, kubiarkan saja pikiranku mengembara kemanapun dia mau, hingga aku benar-benar merasa pusing, jelas perutku mual dan ingin memuntahkan angin yang mengisi seluruh perutku, karena tak secuilpun makanan berhasil masuk ke dalam perut.

Aku coba berkata pada sang angin yang mampir dalam lamunanku...
"Rasa-rasanya.... sekarang aku tak pantas di cintai lagi oleh siapapun... Tak ada lagi yang bisa di banggakan..." Hufs! aku meremas-remas rambutku. Jika sudah begini, aku mau apa lagi?

Tiga hari yang lalu, aku tersenyum sumringah dan penuh semangat untuk menjalani hidupku kembali. Kukira dia malaikat yang akan menyelamatkan hidupku. Aku sudah membuat sumpah dalam diriku, jika nanti aku berhasil dia adalah orang pertama yang paling berjasa dan aku akan hidup hanya untuknya. Tapi aku terperangah tak percaya... semua harapan yang dia berikan berterbangan seperti debu di tiup angin. Achhh.... seharusnya aku tak berharap pada siapapun.

Tuhan...
Kuberikan hidupku...
Terserah mau bagaimana...

Lelah...
Maafkan aku ibu...

Lagi-lagi aku mengecewakan mu


Aku akan mencoba berusaha Tuhan... berikan aku kekuatan. Terimakasih karena mengajarkan aku untuk tidak mudah percaya dengan siapapun...




Jalan menuju hidup bukan satu arah...

Banyak jalan... menuju Roma...


Semangat!!!

:)




Jangan beli cinta dengan segenggam berlian...
berikan cinta dengan ke-ikhlasan







2 komentar:

  1. Ra kenape low? udah kayak pepesan aja melow begitu, semangat napa, jangan berlarut-larut ye sedih

    BalasHapus
  2. Iya..bener, jangan beri cinta dengan segenggam berlian, emas aja mahal apalagi berlian ya..hehe. Aniwei, neh pnglaman pribadi ato fiksi seh?

    BalasHapus

Yang iku cuap-cuap....