|
|||||
Tulisan Sebelumnya
Link
Blogger
Recent Comments
|
15 Juni, 2009Tak tercipta untukku"buku itu dibakar saja" itulah sms singkat yang kukirm padanya...
mungkin buku itu tidakah berarti untuknya. Karena sesuatu yang berarti itu adalah kesan luar biasa dari cinta. Namun pertanyaanya selalu saja menyakitkan buatku. Mungkin, dia tidak menganggap buku itu pentng baginya. Itu adalah karya perdanaku... bahkan itu saja tidak sanggup dia jaga... aku tidak minta dia menjaga hatiku. Ketika ia meminta untuk mengakhiri hubunganku denganya, aku mengiyakan... ketika amemintaku untuk tidak menghubunginya lagi, aku mengiyakan... sekarang apa lagi...? apa saja asal bisa membuat dia tidak terbebani... dia mungkin tidak perduli dengan perasaan cintaku lagi... tapi buku itu... aku memberkanya dengan rasa cintaku... mengapa dia sibuk mengembaikan padaku? hanya karena rasa takut ketauan calon suaminya... apa semuanya hanya sebatas sini? aku tidak meminta apapun... argh!!!! 01 Mei, 2009Ketika sakuraku berguguran kembaliSenja mulai merayap kekuning-kuningan. Angin berhembus pelan menerpa wajahku yang masih berlipat. Aku berdiri mematung di depan pintu memandangi rerumputan yang bergoyang kesana-sini di sapa angin sore. Aku menghela napas panjang. Sakit dan berat rasanya. Aku benar-benar ingin sendiri… semuanya berubah begitu cepat. “aku berjanji akan menunggumu, hingga kamu kembali…” itulah kata-kata terakhir darinya, namapaknya ia begitu yakin dengan ucapanya. “tunggu aku. Tidak akan lama…” timpalku tak kala yakin
Beberapa kali aku menghubunginya dan perasaan itu sama, namun dalam hitungan hari, saat aku kembali padanya… semuanya sudah berubah. Dimana aku menantikan waktu-waktu menjumpainya. Di mana hatiku berjanji tidak akan meninggalkanya lagi, di mana hatiku yakin bahwa perasaan ini telah punya tempat yang tepat untuk berteduh “kita hanya bisa berencana sebagai manusia. Tapi, Tuhan yang merencanakan semuanya. Cintaku untukmu sudah terkikis habis dengan datangnya laki-laki itu dalam hidupku. Dia begitu sempurna… tahun depan kami akan menikah. Kau datang kan?” aku menelan ludahku getir. Apa dayaku…dia akan memilih laki-laki itu ketimbang aku… sebesar apapun cintaku padanya sama sekali tidak aka ada arti dimatanya. Dia sangat berbeda… semua cintanya berterbangan sore itu… tak ada lagi tersisa. Aku menggigit bibirku… akulah yang berkata padanya awal hubungan kupadanya “aku hanya ingin menemanimu sampai kau menemui laki-laki dalam hidupmu, setelah itu aku akan melepaskanmu…” “jika aku menemukan laki-laki itu, apa kau tidak menyebutku sebagai penghianat?” “tidak. Wanita secanti kau akan menikah…”aku tergelak. Dia teradiam mendengar kata-kataku “bagaimana dengamu? Kau akan ditinggalkan lagi” suaranya mulai serak. Biasanya dia akan menangis jika sedikit saja hatinya tersentuh. Dia begitu sensitive… “yah… aku sudah terbiasa. Terbiasa ditinggalkan…” jawabku begitu lantang padanya. Dia mendehem. Karena pada saat itu aku yakin bahwa perasaan seperti ini tidak akan cepat berlalu.
Ketergantunganya padaku membuat aku yakin bahwa cintanya tidak akan cepat sirna… yaaaahhh…aku tidak akan pernah menang melawan seorang laki-laki untuk merebutkan cinta seorang wanita. Memang benar dulunya dia sangat mencintaiku… memang benar semua hatinya memang untukku… memang benar semua hidupnya coba ia curahkan untukku… tapi hidup terus berputar, karena tak ada yang abadi… “aku tidak akan menyangka semunya akan terjadi begitu cepat…” ia tebatah-batah menjelaskan “aku…aku…aku tidak mau berbohong padamu. Dia teman SMPku. 14 tahun aku menahan perasaan ini padanya… dan selama itu juga ternyata perasaan ku itu sama denganya… selama empat belas tahun ini dia mencariku…” ada sisi hatiku yang teriris mendengarnya. “maafkan aku…” ia menyambung kata-katanya. Kami sama-sama terdiam… hari yang sudah begitu lama kunantikan, jadi begini…hancur “hmmm… siapa nama laki-laki itu?… ceritakan padaku” kataku cepat. Dia sedikit kaget. Lalu ia mulai bercerita tanpa beban, aku melihat cinta dan harapan begitu besar di matanya. Mana mungkin aku tega menghancurkan impian seorang wanita yang kucintai hanya karena rasa egoisku dan cintaku yang tak lagi terbalas. “karena aku merasa bahwa kau adalah teman terbaiku makanya aku bercerita ini padamu” teman terbaik? Kata kekasih sudah di gantinya dengan kata itu… argh!!! Ingin sekali aku berteriak di depanya pada saat itu… “tidak apa-apa. Cinta tidak pernah salah…” kataku sok bijak… begitu lama kami terdiam, namun tiba-tiba tangisku meledak, bagaimanapun ini sangat sulit bagiku dan hatiku tidak bisa dibohongi… ia tertegun… “maafkan aku…”hanya itu ucapanya “aku aku…hanya tidak tau apa yang harus kulakukan besok pagi tanpamu… kenapa kau begitu egois?…kenapa kau tidak menepati janjimu untuk menungguku?…” tangisku meledak… setelah puas memuntahkan semua isi hatiku padanya, aku menyeka air mataku… aku Nampak bodoh sekali pikirku… “kejarlah cintamu… tak ada yang salah jika kau kembali ke jalan yang sebenarnya, jalan yang seharusnya kau tapaki. Mungkin aku akan sedih dua hari tiga hari…tapi, hidup itu akan selalu bergulir…aku melepaskanmu… aku sudah memaafkan semuanya… dan hutang janjimu sudah kuanggap lunas…” setelah mengecup keningnya satu kali aku berlalu darinya dengan membawa rasa sakit hati yang luar biasa menghujam hatiku… aku ingin sekali berbalik, tidak! Dia sudah memilih jalanya sendiri. Jalan yang seharusnya dia berada. Jika aku aku berbalik aku adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Cinta itu memberi… * * *
Setidaknya aku pernah memasuki hidupnya dan menjadi teman terbaik untuknya… dia sudah bahagia dengan hidupnya, seharusnya aku juga bahagia, karena dulu aku sangat menghawatirkan ketergantunga dirinya padaku. Aku tidak perlu mencemaskan dia lagi. Karena saat ini sudah ada orang lain yang berhak menjaganya…
Ini adalah resiko yang harus aku jalani… keputusan yang seharusnya dulu aku pahami dampaknya dengan jiwaku. Dia bukan seorang lesbian sepertiku, hanya seorang perempuan yang kesepian yang tiba-tiba saja hidupnya di masuki oleh orang sepertiku yang hari-harinya nampak berarti karena di isi olehku… namun setelah semuanya sudah selsai. Selsai. Kalaupun ada rasa sakit itu adalah resoko yang harus aku jalani dari dulu. Pengembara cinta sepertiku resekonya adalah di tinggalkan. Aku tidak tau apakah ada cinta sejati untuk orang sepertiku? Hufz… seperti katanya “aku ingin kau seperti aku…” maksutnya normal. Oh Tuhan, permintaan itu kuanggap sangat gila. Sama halnya aku meminta seorang wanita normal untuk menjadi seorang lesbian. “tidak! Ini adalah hidupku. Dan ini adalah takdirku”
Kadang aku berpikir apa orang-orang yang pernah mejalani hubungan denganku akan merindukanku? Semua jenis wanita pernah menjalani hubungan denganku… tapi sayang semuanya berakhir teragis. Tapi, ini adalah sebuah kisah-kisah kecil dalam hidupku… aku mempelajari banyak sifat manusia dan reaksi manusia ketika merasa bahagia di cintai, merasa kecewa di hianati, merasa hancur di tinggalkan… hah! Kenapa aku melakukan percobaan dengan diriku sendiri. Dasar wanita aneh…jadi rasa sakitnya begini...
Selamat tinggal kekasih… Sakuraku kembali berguguran… Musim semi tahun depan bunga sakuranya akan berapa lama bertahan yah? Adakah bunga sakura yang tumbuh di pelosok bumi tak pernah gugur?
Mungkin… Sakit sekali rasanya… akan sulit mentrapi hati dan perasaanku kembali nampaknya. Tapi aku harus melakukanya…
18 Maret, 2009kEKASIH MASA LALU (BAG 2)Mataku nanar, menuju ke arah jendela,berharap sosok yang kunanti akan muncul. Setidaknya aku ingin bertanya namanya. 30 menit waktu berlalu, dan nampaknya Dosen didepanku sama sekali tidak bersemangat memberikan materi, baru 30 menit ia menjabarkan materi mata kuliah, akhirinya di sudahnya, dengan alasan tidak enak badan. Seisi kelas bergemuruh riang. "Hei..." seorang gadis tubuh kurus mengulurkan tangan ke arahku, aku menyabutnya "Heni..." ia menyebut namanya singkat, lalu duduk tepat di sampingku. Sebelum aku melanjutkan obrolan bersama Heni gadis yang baru beberapa menit kukenal ini "Hoi..." aku kaget setengah mati, sebuah tepukan keras mendarat di pundaku. Astaga. Si tomboy itu, teman ketika OSPEK kemaren, setelah acara bulan-bulana mahasiswa baru itu usai, si timboy ini mendadak pupoler. Ia mau saja di jadikan objek lucu-lucuan para senior, apapun ia lakukan... hufz, kebetulan aku adalah salah satu grupnya, jadi aku mengalami kegilaan itu bersamanya "aku kekosanmu yah, boleh gak?" "boleh, nih kenalin temen sekelasku..." Arin si tomboy menjabat tangan Heni, sambil menerbangan senyum misterius. "kamu mau ikut Hen? kita istirahat di kosanku" Heni mengangguk. Dia belum juga muncul. Aku dan ketiga teman baruku keluar dari kelas. Langkahku berhenti sejenak. Mataku menangkap sosok yang ingin kutemui beberapa hari ini. itu dia... duduk diantara para mahasiswa lainnya asik ngobrol. Aku menghampirinya. "maaf mbk..." ia menoleh ke arahku. Ia tersenyum "eh, yang kemaren kan?" aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih karena membatu acara tersesatku. Akhirnya kutau namanya, Mala... 11 November, 2008Kekasih masa lalu.... (Bagian Pertama)![]() Ini pertama kali aku menginjakan kaki di sebua Universitas Negri di kota tetanggaku. Kepalaku sedikit pusing melihat ratusan mahasiswa baru hilir mudik mengurus berkas pendaftara. Aku menyeka keringat yang mulai bercucuran di dahiku dengan selembar tysu putih. Kruk... Kruk... kuelus perutku yang mulai menjerit minta di isi, rasanya perih sekali, dari pagi tadi aku tidak makan apa-apa, kecuali segelas teh hangat. "permisi...permisi" ujarku menerobos masuk kekerumunan mahasiswa baru yang berdesakan melihat Nomor Pokok Mahasiswa. Mataku menjelajahi nama-nama yang bercecer di kaca, akhirnya aku menemukan namaku, ini dia.... aku keluar dengan susah payah "eh, anak komunikasi yah?" aku menoleh ke arah sumber suara. Kukira dia kakak tingkatku, perempuan itu melepar senyum kearahku. Aku mengangguk. ia mengulurkan tanganya... "Tanti..." ia menyebutkan namanya cepat "Rara..." kusambut uluran tanganya "kalo kamu butuh bantuan, kamu boleh nanya-nyanya di stan anak-anak komunikasi, tuh" telunjuknya mengarah ke sebuah meja yang di kelilingi oleh mahasiswa yang memakai jaket almamater biru. "oh ya kak..." "ayo..." perempuan yang baru beberapa menit aku kenal itu menarik tanganku kearah teman-temanya, seperti kerbau yang di tusuk hidunganya aku hanya mengikuti gerak kakinya yang begitu lincah "hallow... ini ada adikku... namanya Rara. Kenalin...kenalin" aku menyambut telapak tangan mereka satu-satu. Dan akhirnya selama setengah hari aku di temani oleh kak Tanti, terus terang awalnya aku bingung kenapa dia dengan relah hati membantu proses pendaftaranku di Rektorat, hampir semuanya dia yang mengerjakanya dan aku hanya menunggu... belakangan aku tau, maksutnya apa... setelah semuanya selsai, baru perempuan yang berpostor tubuh tinggi itu menjelaskan panjang lebar. Mungkin inilah pendekatan para aktivis kampus untuk merekrut anggota baru "sudah punya recana gak pengen masuk ke Organisasi mana? kalo memilih organisasi sebaiknya yang berbobot yang menunjang kegiatan akademik kamu" aku hanya manggut pura-pura paham... ia menyodorkan beberapa selembaran tentang organisisasinya. "okey deh kak. Nanti akan kupertimbangkan. Makasih atas semuanya. Aku mau pulang dulu" aku beranjak dari dudukku, tapi buru-buru di tahanya "kamu ngekos di mana?" "Hijau Indah" "jauh yah. Udah makan belum?" "belum..." "kebetulan kakak juga mau pulang. Gimana kalo kamu main kekosan kakak, sekalian kita makan di sana. Soalnya tadi pagi kakak masak... mau yah. Ayolah..." Aku tak kuasa menolak ketika tangannya sudah menggenggam telapak tanganku, lagi-lagi aku mengikuti kak Tanti... Aku tak pernah menyangak jika perkenalan pertamaku pada kak Tanti akan membawaku pada sesorang yang merubah hidupku, dia adalah sahabat kak Tanti... seseorang yang pertama kali ku temui di sebuah keramaian kota, dan itu sungguh memalukan... aku tersesat, karena memang aku baru pertama kali itu keluar kosan, dengan mencoba memberanikan diri tanpa di temani oleh siapapun, sebenarnya teman-temanku sudah menawarkan diri untuk menemani, tapi dengan angkuh aku menolak... aku panik, karena kaki ku sudah sangat letih. Tuhan...tiba-tibsa saja terpikir olehku untuk memangil seorang yang lewat di depanku... "eh mbak, maaf nanya. Aku mau pulang ke hijau Indah, tapi gak tau rutenya..." malu... ia tersenyum, matanya tajam dan kulitnya sawo mateng "sebentar yah..." ia mengantarku sampai di depan kosan... tapi sebelum aku menanyakan siapa namanya dia sudah pergi, tapi aku masih mengingat lekuk wajahnya yang begitu ramah...
|
Jika cintaKetika kita punya cinta, kita tidak ingin yang lain. TerbaikArtikel | |||
| Menuggu Senja - Free Skin | |||||